Rabu, 09 Februari 2011

ASKEB Solusio Plasenta

ASUHAN KEBIDANAN PADA KEHAMILAN DENGAN
SOLUSIO PLASENTA TERHADAP Ny. “W”
DI RSUD BANGIL
TAHUN 2011




Oleh :


NOVITA ROHMAWATI
NIM. 09002182





















POLITEKNIK KESEHATAN
MAJAPAHIT MOJOKERTO
PROGRAM STUDI KEBIDANAN
TAHUN 2011
LANDASAN TEORI

Pengertian
Solusio plasenta ialah pelepasan placenta sebelum waktunya dari tempat implantasinya yang normal pada uterus, sebelum janin dilahirkan. Definisi ini berlaku pada kehamilan dengan masa gestasi diatas 22 minggu atau berat janin di atas 500 gram. Proses solusito plasenta dimulai dengan terjadinya perdarahan dalam disidua basalis yang menyebabkan hematoma retroplsenter.
Hematoma dapat semakin membersar kearah pinggir plasenta sehingga jika amniok horion sampai terlepas, perdarahan akan keluar melalui ostium uteri (perdarahan keluar), sebaiknya apabila amniokhorion tidak terlepas. Perdarahan tertampung dalam uterus (perdarahan tersembunyi).

Perdarahan keluar Perdarahan tersembunyi
Keadaan umum penderita relatif lebih baik Keadaan penderita lebih jelak
Plasenta terlepas sebagian atau inkomplit Plasenta terlepas luas, uterus keras/kejang
Jarang berhubungan dengan hipertensi Sering berkaitan dengan hipertensi
Merupakan 80% dari solusio placenta Hanya merupakan 20% dari solusio plasenta
Sering disertai toxaemia
Pelepasan biasanya komplit

(Manuaba, 1999)

Etiologi
Sebab primer solusio plasenta belum jelas tapi diduga bahwa penyebabnya adalah :
Hipertensi assentiaus atau pre eklamsi, dekompresi uterus mendadak
Tali pusat yang pendek, anomali atau tumor uterus defisiensi gizi
Trauma, merokok, konsumsi alkohol, penyalahgunaan kokain
Tekanan oleh rahim yang membesar pada vena cava inferior
Uterus yang sangat mengecil (hydromnion gemeli) obstruksi vena kavo inferior dan vena ovarika
Disamping itu juga ada pengaruh terhadap :
Umur lanjut
Multiparitas
Defisiensi ac. Folicum
Solusio plasenta dimulai dengan perdarahan dalam acidua basalis, terjadilah hematoma dalam acidua yang mengangkat lapisan-lapisan diatasnya. Hematoma ini makin lama makin besar, sehingga bagian plasenta yang terlepas dan tak berfaal. Akhirnya hematoma mencapai pinggir placenta dan mengalir keluar antara selaput janin dan dinding rahim.
(Mansjoer, 2001)

Gejala-gejala
Perdarahan yang disertai nyeri, juga diluar his
Anemia dan shock : beratnya anemia dan shock sering tidak sesuai dengan banyaknya darah yang keluar
Rahim keras seperti papan dan nyeri dipegang karena isi rahim bertambah dengan darah yang berkumpul di belakang plasenta hingga rahim teregang (uterus en bois)
Palpasi sukar karena rahim keras
Fundus uteri makin lama makin naik
Bunyi jantung biasanya tidak ada
Pada toucher teraba ketuban yang tegang terus menerus (karena isi rahim bertambah)
Sering ada proteinuria karena disertai toxemia
Diagnosis didasarkan atas adanya perdarahan antepartum yang bersifat nyeri, uterus yang tegang dan nyeri setelah plasenta lahir atas adanya impresi (cekungan) pada permukaan maternal placenta akibat tekanan haematoma retroplacentair
Perdarahan dan shock diobati dengan pengosongan rahim segera mungkin hingga dengan kontraksi dan retraksi rahim. Perdarahan dapat terhenti. Persalinan dapat dipercepat dengan pemecahan ketuban dan pemberian infus dengan oxytocin. Jadi pada solusio plasenta pemecahan ketuban tidak dimaksudkan untuk hentikan perdarahan dengan segera seperti pada placenta previa tapi untuk mempercepat persalinan dengan pemecahan ketuban regangan dinding rahim berkurang dan kontraksi rahim menjadi lebih baik, disamping tindakan tersebut transfusi sangat penting (Winkjosastro, 2005).

Terapi
Atasi syok
Infus larutan NS/RL untuk restorasi cairan, berikan 500 ml dala 15 menit pertama dan 3 l dalam 2 jam pertama
Berikan transfusi dengan darah segar untuk memperbaiki faktor pembekuan akibat koagulatif

Tatalaksana oliguria atau nekrosis tubuler akut
Tindakan restorasi cairan, dapat memperbaiki hemodinamika dan mempertahankan eksresi sistem urinaria, tetepai bila syok terjadi secara cepat dan telah berlangsung lama (sebelum dirawat), umumnya akan terjadi gangguan fungsi ginjal yang ditandai dengan oliguria (produkdi urin < 30 ml/jam) pada kondisi yang lebih berat dapat terjadi anuria yang mengarah pada nekrosis tubulus renalis. Setelah restorasi cairan dilakukan tindakan untuk mengatasi gangguan tersebut dengan : Furosemida 40 mg dalam 1 liter krostoloid dengan 40-60 tetes/menit Bila belum berhasil gunakan manital 500 ml dan 40 tetes/menit Atasi hipofibrigonemia Restorasi cairan/darah sesegera mungkin dapat menghindarkan terjadinya koagulopati Lakukan uji beku darah (bedside coagulation test) untuk menilai fungsi pembekuan darah (penilaian tidak langsung kadar ambang fibrinogen)). Carananya sebagai berikut : Ambil darah vena 2 ml masukkan dalam tabung kemudian diobservasi Gangguan bagian tabung yang berisi darah Setelah 4 menit, miringkan tabung untuk melihat lapiran koagulasi dipermukaan, lakukan hal yang sama tiap menit Bila bagian permukaan tidak membeku dalam waktu 7 menit, maka diperkiran titer fibrinogen dianggap di bawah nilai normal (kritis) Bila terjadi pembekuan tipis yang mudah robek bila tabung dimiringkan, keadaan ini juga menunjukan kadar fibrinogen di bawah ambang normal. Bila darah segera tidak dapat segera diberikan, berikan plasma beku segar (15 ml/kg BB) Bila plasma beku segar tidak tersedia, berikan kriopresipatat fibrinogen Pemberian fibrinogen, dapat memperberat terjadinya koagulasi desminato intravaskuler yang berlanjut yang berlanjut dengan pengedapan fibrin, pengendapan fibrin, pembendugan mikrosirkulasi di dalam, di dalam organ-organ vital, seperti ginjal, glandula adrenalis hipofisis dan otak. Bila perdarahan masih berlangsung (koagulatif) dan trombosit di bawah 20.000 berikan konsetra trombosit. Hypofibrinogenemia : coagulopathi ialah kelainan pembekuan darah : dalam ilmu kebidanan paling sering disebabkan oleh solusio plasenta, tapi juga dijumpai pada emboli air ketuban, kematian janin dalam rahim dan perdarahan postpartum. Kadar fibrinogen pada wanita yang hamil biasanya antara 300-700 mg dalam 100 cc. bila kadar fibrinogen dalam darah turun di bawah 100 mg per 100 cc terjadilah gangguan pembekuan darah. Terjadinya hipofibrinogenemia : Fase I : pada pembuluh darah terminal (arteriol, kapiler, vena terjadi pembekuan darah disebut disseminated intravaskuler clotting, akibatnya ialah bahwa peredaran darah kapiler (microcirculasi) terganggu. Jadi pada fase I turunya kadar fibrinogen disebabkan karena pemakaian zat tersebut. Maka fase I disebut juga coagulopatihi consumtif. Diduga bahwa hematom retroplacentair mengeluarkan thtomboplastin yang menyebabkan pembekuan intravaskuler tersebut. Akibat gangguan mikrocirculasi terjadi kerusakan jaringan pada alat-alat yang penting karena hipoxia, kerusakan ginjal menyebabkan oliguri/anuri, akibat gangguan mocrocirculsi ialah shock Fase II : fase regulasi reparatif ialah usaha badan untuk membuka kembali perdarahan. Darah kapiler yang tersumbat. Usaha ini dilaksanakan dengan fibrinolyse. Fibrinolyse yang berlebihan lebih lagi menurunkan kadar fibrinogen hingga terjadi perdarahan patologis Penentuan hypofibrinogenaemi Penentuan fibrinogen secara laboratoris memakan waktu yang lama maka untuk keadaan akut baik dilakukan clot obsevation test. Beberapa CC darah dimasukkan dalam tabung reagens. Darah yang normal membeku dalam 6-15 menit. Jika darah membeku cair lagi dalam 1 jam maka ada aktivitas fibrinolyse (Winkjosastro, 2005). Patofisiologi Terjadinya solusio placenta dipicu oleh perdarahan ke dalam disidua basalis, yang kemudian terbelah dan meninggalkan lapisan tipis yang melekat pada meometrium sehingga terbentuk hematoma disidual yang menyebabkan perlepasan, kompresi dan akhirnya penghancuran placenta yang berdekatan dengan bagian tersebut. Ruptur pembuluh arteri spiralis disidua menyebabkan hematoma retroplacenta yang akan memutuskan lebih banyak pembuluh darah, hingga pelepasan placenta makin luas dan mencapai tepi plasenta, karena uterus tetap berdistensi dengan adanya janin, uterus tidak mampu berkontraksi optimal untuk menekan pembuluh darah tersebut selanjutnya darah yang mengalir keluar dapat melepaskan selaput ketuban (Mansjoer, 2001). Pengobatan Umum Pemberian darah yang cukup Pemberian O2 Pemberian antibiotica Pada shock yang berat diberi kortikasteroid dalam dosis tinggi Khusus Teraphy hypoibrinogenemi Subtitusi dengan human fibrinogen 10 gram atau darah segar Menghentikan fibrinolyse dengan trasylol (proteinase inhibitor) 200.000 s IV selanjutnya kalau perlu 100.000 s/jam dalam infus Untuk merangsang diurese : mannit/mannitol Deurese yang baik lebih dari 30-40 cc/jam Obstetris Pimpinan persalinan pada solusio placenta bertujuan untuk mempercepat persalinan diharapkan dapat terjadi dalam 3-6 jam. Alasannya adalah : Bagian placenta yang terlepas meluas Perdarahan bertambah Hypofibrinogenaemi menjelma atau bertambah Tujuan ini dicapai dengan : Pemecahan ketuban : pada solusio placenta tidak bermaksud untuk menghentikan perdarahan dengan segera tetapi untuk mengurangi regangan dinding rahim dan dengan demikian mempercepat persalinan Pemberian infus pitocin ialah 5 c dalam 500 cc glucase 5% SC dilakukan : Kalau cerviks panjang dan tertutup Kalalu setelah pemecahan ketuban dan pemberian oxytocin dalam 2 jam belum pecah juga ada his Hysterektomi dilakukan kalau ada atonia uteri yang berat yang tak dapat diatasi dengan usaha-usaha yang lazim. (Manuaba, 1999) Seksio Sesaria Seksio sesaria dilakukan apabila : Janin hidup dam pembekuan belum lengkap Janin hidup, gawat janin, tetapi persalinan pervaginam tidak dapat dilaksanakan dengan segera Janin mati pervaginam dapat berlangsung dalam waktu yang singkat Persiapan untuk sesaria cukup dilakukan penanggulangan awal (stabilisasi dan tatalaksana komplikasi) dan segera lahirkan bayi karena operasi merupakan satu-satunya cara efektif untuk menghentikan perdarahan. Hematoma meometrium tidak mengganggu kontraksi uterus Observasi ketat kemungkinan perdarahan ulang (koagulopatti) (Manuaba, 1999) Partus Pervaginam Partus pervaginam dilakukan apabila : Janin hidup, gawat janin, pembekuan lengkap, dan bagian terendah didasari panggul Janin telah meninggal dan pembukaan serviks > 2 cm
Pada kasus pertama, amniotomii (bila ketuban belum pecah), kemudian percepat kala II dengan ekstraksi forceps (vakum)
Untuk kasus kedua, lakukan amniotomi (bila ketuban belum pecah) kemudian akselerasi dengan 5 unit oksitosin dla dekstore 5% atau RL, tetesan diatur sesuai dengan kondisi kontraksi uterus.
Setelah persalinan, gangguan pembekuan darah akan membaik dalam waktu 24 jam, kecuali bila jumlah trombosit sangat rendah (perbaikan batu terjadi dalam 2-4 hari kemudian)
(Manuaba, 1999)

Manifestasi Klinis
Anamnesis
Perdarahan biasanya pada trimester ke III perdarahan pervaginam berwarna kehitam-hitaman yang sedikit sekali tanpa rasa nyeri sampai dengan yang disertai nyeri perut, uterus tegang, perdarahan pervaginam yang banyak, syok, dan kematian janin intrauterin.
Pemeriksaan fisik
Tanda vital dapat normal sampai menunjukkan tanda syok
Pemeriksaan obstetri
Nyeri tekanan uterus dan tegang, bagian-bagian janin sukar dinilai, denyut jantung janin sulit dinilai atau tidak ada air ketuban berwarna kemerahan karena bercampur darah.
(Mansjoer, 2001)

Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan laboratorium
Hemoglobin
Hematokrit
Trombosit
Waktu protrombin
Waktu pembekuan
Waktu tromboplastin
Kadar fibrinogen
Elektrolot plasma
KTG untuk menilai kesejahteraan janin
USG untuk menilai letak plasma, usia gestasi, dan keadaan janin.
(Mansjoer, 2001)
ASUHAN KEBIDANAN TERHADAP Ny. “W”
DENGAN SOLUSIO PLASENTA DI BPS WAHYU NINGSIH
TAHUN 2007

PENGUMPULAN DATA DASAR tanggal 21 Januari 2007 Jam 07.00 WIB
Identitas
Nama : “W” Nama suami : Tn. “R”
Umur : 30 tahun umur : 38 tahun
Suku : Jawa Suku : Lampung
Agama : Islam Agama : Islam
Pendidikan : SMA Pendidikan : SMA
Pekerjaan : IRT Pekerjaan : Buruh
Alamat : Jl. Kh. Hasim Asari Alamat : Jl. Kh. Hasim Asari
No 5 Mataram Baru No 5 Mataram Baru

Anamnesa
Alasan kunjungan saat ini
Ibu mengatakan hamil anak ke-2 usia kehamilan 9 bulan dengan keluhan nyeri pada bagian perut, perut terasa sesak hanya karena tekanan dan kadang-kadang perutnya tegang.
Riwayat kehamilan ini
Riwayat mentruasi
Menarche : 12 tahun
HPHT : 11-05-2006
TP : 24-02-2007
Siklus : 28 hari
Lamanya : 5-6 hari
Sifat darah : encer bercampur lendir
Banyaknya : 2-3 kali ganti pembalut
Riwayat persalinan yang lalu
No Tahun Tempat persalinan Usia kehamilan Jenis persalinan Penolong Penyulit kehamilan Jenis kelamin BB PB
1 1998 Rumah 9 bulan Spontan Dukun Tidak ada Perempuan 3500 gram 50 cm

Riwayat kehamilan sekarang
Ibu hamil yang ke-2 usia kehamilan 9 bulan
Ibu mendapatkan imunisasi TT 2 x pada usia kehamilan 5 bulan dan 6 bulan
Selama hamil ibu sering merasa perutnya nyeri, perut terasa sesak karena tertekan dan kadang-kadang perutnya tegang
Ibu periksa 5 x selama hamil di BPS. Wahyuningsih
Riwayat Penyakit
Riwayat kesehatan ibu
Ibu tidak memiliki penyakit keturunan atau penyakit menular lainnya
Riwayat kesehatan keluarga
Dalam keluarga ibu dan suami tidak ada yang menderita penyakit menular atau keturunan serta tidak terdapat riwayat menular atau keturunan serta tidak terdapat riwayat keturunan anak kembar
Riwayat perkawinan
Menikah : 1 kali
Usia saat menikah : 20 tahun
Lama pernikahan : 10 tahun
Pola kebiasaan
Nutrisi
Sebelum hamil : Makan 3 x sehari dengan menu nasi, lauk, sayur, dan buah-buahan ditambah susu, minum 7-8 gelas/hari
Saat hamil : Makan 3 x sehari dengan menu gizi seimbang, nasi, lauk, sayur, dan buah-buahan ditambah susu dan makanan kecil, minum 7-8 gelas/hari

Eliminasi
Sebelum hamil : BAB 1 x setiap hari, BAK 5-6 setiap hari
Saat hamil : BAB 1 x setiap hari, BAK 7-8 setiap hari
Aktivitas
Sebelum hamil : Ibu dapat melakukan pekerjaan rumah tangga seperti biasanya
Saat hamil : Ibu dapat melakukan aktivitas seperti biasa (seperti saat sebelum hamil) tidak pernah terasa lelah
Istirahat dan tidur
Sebelum hamil : 7-8 jam/hari, tidak mengalami kesulitan
Saat hamil : 5-6 jam/hari, kadang-kadang makan terjaga karena ingin BAK
Personal hygiene
Sebelum hamil : mandi dan ganti pakaian 2 kali sehari hygiene terjaga
Saat hamil : mandi dan ganti pakaian 2 x sehari hygiene terjaga
Olah raga
Ibu sering melakukan jalan-jalan pagi setelah hamil tidak pernah
Sexsualitas
Sebelum hamil : hubungan seksualitas dilakukan 2 x 1 minggu
Saat hamil : hubungan seksualitas dilakukan 1 x seminggu
Riwayat KB
Ibu pernah menggunakan alat kontrasepsi suntik depo progestin
Data Psikologi
Ibu merasa bahagia dengan kehamilannya dan berharap anaknya lahir dengan sehat dan selamat
Data Sosial
Rumah ibu permanen dan lingkungan sekitar baik


Pemeriksaan
Pemeriksaan fisik
Keadaan umum : baik
Tanda-tanda vital :
TD : 110 /70 mmHg
Nadi : 80 x/menit
Suhu : 37 oC
RR : 20 x/menit
BB sebelum hamil : 53 kg
BB saat hamil : 64 kg
Kenaikan BB : 12 kg
Tinggi badan : 160
Pemeriksaan kebidanan
Inpeksi
Rambut : hitam, bersih, tidak mudah dicabut
Telinga : pendengaran baik, telinga ibu bersih, simetris kanan – kiri
Mata : simetris kanan-kiri, seklera putih, konjungtiva merah muda, refeks pupil baik fungsi penglihatan normal
Hidung : septul masal simetris, tidak ada polips, fungsi penciuman normal
Mulut : tidak terdapat stomatitis, dan caries dentis
Leher : tidak terdapat pembersaran stomatitis, dan caries dentis
Leher : tidak terdapat pembesaran kelenjar tiroid dan pembersaran vena jugularis
Dada : payudara ibu bersih, simetris kanan-kiri, tidak ada kelainan putting susu menonjol, aerola hitam
Perut : perut ibu membesar, terdapat strie gravidarum, tidak terdapa bekas operasi
Genetalita eksterna
Tidak dilakukan pemeriksaan 3 kali ganti celana dalam perhari, tidak ada keputihan dan gatal-gatal
Ekstermitas
Bawah : simetris kanan-kiri, reflek babinski negatif tidak terdapat oedema dan varises
Atas : bentuk simetris kanan-kiri, normal, berfunsi baik, tidak terdapat kelainan
Palpasi
Leopold I : TFU 35 cm, pada bagian fundus teraba keras, bulat, dan melenting bila digoyangkan berarti kepala
Leopold II : pada bagian kiri teraba keras, datar memanjang, berarti punggung
Leopold III : teraba keras, bulat dan kurang melenting berarti kepala, susah digoyangkan, kepala sudah masuk PAP
Leopold IV : kedua tangan pemeriksa sejajar
Auskultasi : DJJ tidak terdengar (-)
Perkusi : refleks pattela (+), refleks babonski (+)

Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan laboratorium
Haemoglobin : 11 gr%
Protein urine : tidak dilakukan
Reduksi urine : tidak dilakukan

INTERPRESTASI DATA DASAR
Diagnosa
Ibu dengan GIIPIAo hamil 36 minggu, janin tunggal hidup, letak memanjang, intra uterin, posisi punggung kiri dengan presentasi kepala.
Dasar :
Ibu mengatakan hami ke-2
HPHT : 11-05-2006
TP : 24-02-2007
TFU : 35 cm
TBJ : (35-11) x 155 = 3720 gram
Palpasi : pada fundus teraba lunak, tidak melenting, yaitu bokong, bagian kiri ibu terab ada tahanan yang memanjang (PU-KI) sebelah kanan teraba bagian-bagian kecil yaitu ektermitas.
Asukultasi : DJJ kadang tidak terdengar
Masalah
Gangguan rasa nyaman
Dasar :
Ibu mengatakan merasa nyeri dan kadang-kadang perutnya tertekan dan tegang
Ibu hamil 36 minggu

Kebutuhan
Pemenuhan cairan dan nutrisi
Penyuluhan tentang senam hamil
Ajarkan posisi yang benar pada ibu hamil
Penyuluhan tentang presnatal breast care
Penyuluhan tentang tanda-tanda persalinan
Penyuluhan tentang resiko yang terjadi pada persalinan

IDENTIFIKASI DIAGNOSA DAN MASALAH POTENSIAL
Potensial terjadi hipoksia pada bayi dan perdarahan pada ibu

KEBUTUHAN TERHADAP INTERVENSI DAN KOLABORASI SEGERA
Kolaborasi dengan dokter jika diperlukan

PERENCANAAN ASUHAN
Jelaskan keadaan ibu saat ini
Anjurkan ibu untuk melahirkan ditenaga kesehatan atau rumah sakit
Ajarkan pada ibu untuk mengatasi gangguan rasa nyaman
Ajarkan pada ibu untuk senam hamil
Pemenuhan kebutuhan nutrisi ibu
Jelaskan tentang gizi ibu hamil
Ajarkan cara minum Fe
Jelaskan tanda-tanda persalinan
Cara mengurangi rasa sakit
Jelaskan pengaruh sering BAK adalah normal

IMPLEMENTASI
Menjelaskan pada ibu tentang keadaan kehamilannya saat ini, bahwa keadaan janinnya sehat, letak Puki presentasi kepala, dan anjurkan pada ibu untuk melahirkan ditenaga kesehatan atau rumah sakit. Dan beritahu ibu sekitar 1 minggu lagi ibu akan melahirkan. Bila dalam 1 minggu kedepan belum melahirkan, dianjurkan ibu untuk datang lagi.
menganjurkan pada ibu untuk makan-makan yang bergizi antara lain, nasi, sayur, lauk (misal, tahu, tempe, ikan, telur, hati, daging)
Menganjurkan pada ibu untuk lebih cenderung miring kiri, apabila ibu sedang tidur agar peredarahan ibu lancar
Memberikan pada ibu tablet penambah darah (Fe) dan vitamin C agar diminum bersama-sama satu kali sehari
Mengajarkan pada ibu tentang prental breast care
Menjelaskan pada ibu tentang tanda-tanda persalinan yaitu : sakit dan tegang pada perut dengan jarak 2-5 menit, bila untuk berjalan semakin sakit, kadang-kadang disertai pengeluaran lendir dan vagina berwarna merah muda.

EVALUASI
Ibu mengatakan sudah mengerti dengan penjelasan yang diberikan
Ibu akan melakukan apa yang dianjurkan
Ibu dapat mengulangi apa yang diajarkan
ibu berjanji akan datang lagi untuk memeriksakan kehamilannya 1 minggu kemudian.
DAFTAR PUSTAKA

Mansjoer, A., 2001, Kapita Selekta Kedokteran Jilid 2 Edisi Ketiga, Media Aeculapius Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta

Manuaba, IBG., 1999, Memahami Kesehatan Reproduksi Wanita, Arcan, Jakarta

Winkjosastro, H., 2005, Ilmu Kandungan Edisi 2 Cetakan Ke-4, YBP-SP, Jakarta

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar